Selasa, 04 April 2017

ADAB KEPADA ORANGTUA DAN GURU

bdullah Ibnu Amar al-‘Ash r.a. berkata : Bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda : “Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan orang tua.” (HR. Tirmidzi). Dari hadits diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa adab kepada orang tua dan guru sangatlah penting. Berikut adalah beberapa adab atau sikap kita kepada orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita, khususnya orang tua dan guru.
A. ADAB KEPADA ORANG TUA

Orang tua merupakan orang yang secara jasmani menjadi asal keturunan anak, orang tua merupakan sosok yang paling dekat hubungannya dengan anaknya. Pengorbanan orang tua sungguh tiada tara, mereka mendidik kita dan menyerahkan hidupnya untuk keselamatan anaknya.
Islam mengajarkan agar seorang anak untuk selalu menaati orang tuanya selama tidak bertentangan dengan agama. Dalam Al-Qur’an Allah sering mengiringkan perintah ta’at kepada-Nya diikuti dengan berbuat baik pada orang tua, karena merekalah tangan kedua setelah Allah. Sebagaimana Firman Allah swt. dalam surah An-Nisa’ ayat 36 sebagai berikut.
Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu memperekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa 4:36).
Dalam ayat tersebutm dijelaskan bahwa kita diwajibkan beribadah kepada Allah swt., juga berbuat baik kepada orang tua. Terutama seorang Ibu yang secara khusus Allah menyebutkan betapa berat mendidik anaknya, sejak dalam kandungan, melahirkan, menyusui, serta mendidik ke tahap selanjutnya.
Oleh karena itu, ketika Rasulullah saw. ditanya, kepada siapa lebih awal berbuat baik? Beliau menjawab “kepada Ibumu, lalu Ibumu, dan Ibumu baru kemudian kepada bapakmu.”
Selanjutnya Allah swt. memerintahkan bersyukurlah atas ni’mat iman dan ihsan serta bersyukurlah kepada orang tua mu atas ni’mat tarbiyyah (pendidikan). Karena keduanya penyebab adanya kamu dan karena pendidikan mereka yang baik sehingga menjadi kuat.
Kita harus selalu berbuat baik kepada kedua orang, sebagaimana Firman Allah dalam surah Luqman ayat 14.
Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu” (QS. Luqman 31:14).
Dan yang harus menjadi pertimbangan adalah pendidikan dan kasih sayang orang tua terhadap anaknya tidaklah hanya dua tahun. Sebagaimana tuntunan Al-Qur’an, pendidikan anak diberikan sampai sang anak dewasa, bahkan sampai sang anak berkeluarga, seorang ibu pun sering membimbing anaknya.
Tetapi perlu diperhatikan, jika kedua orang tua membawa kita untuk kekufuran dan syirik kepada Allah swt., maka tidak perlu untuk di ta’ati.
Akan tetapi, tetaplah bergaul dalam urusan dunia baik dengan baik dan Ihsan sekalipun mereka musyrik. Karena kekufuran , mereka terhadap Allah, tidaklah menghilangkan kelelahannya dalam mendidik anak-anaknya, maka wajarlah jika Allah memerintahkan kita untuk merawat kedua orang tua kita pada masa tuanya ditunjukkan dalam firman Allah swt. QS. Al-Isra ayat 23 berikut.
Artinya : Dan Tuhanmu menetapkan bahwa janganlah kamu menyembah melainkan kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada ibu bapak. Jika sampai salah seorang mereka atau keduanya telah tua dalam pemeliharaanmu (berusia lanjut), maka janganlah engkau katakan kepada keduanya “ah” dan janganlah engkau bentak keduanya, dan berkatalah kepada keduanya perkataan yang mulia (23). Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil (24)” (QS. Al-Isra 17 : 23-24).
Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa adab kepada orang tua (yang masih hidup) adalah sebagai berikut :
  1. Jangan berkata kasar yang dapat menyakiti perasaan kedua orang tua.
  2. Berkata baik, sopan dan santun kepada kedua orang tua
  3. Bertanggung jawab atas kehidupan dan kesejahteraannya di hari tuanya
  4. Merendahkan diri di hadapan kedua orang tua.
  5. Jangan membentak atau memarahi kedua orang tua
Maka merugilah orang yang bersama kedua orang tuanya tetapi ia tidak bisa memeliharanya dengan baik dan berbakti kepada keduanya. Hal ini sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw. yang artinya
Dari Suhail, dari ayahnya dan Abu Hurairah. Rasulullah saw. bersabda, “Merugilah ia (sampai 3 kali)”. Para sahabat bertanya, “Siapa ya Rasulullah?”. Rasulullah saw. bersabda, “merugilah seseorang yang hidup bersama kedua orang tuanya atau salah satunya di saat mereka tua renta, tetapi ia tidak masuk surga”. (HR. Muslim).
B. ADAB KEPADA GURU
Guru merupakan ‘orang tua kedua’ kita, merekalah yang berjasa dalam mendidik kita setelah orang tua, Ilmu yang kita peroleh saat ini tidak lepas dari peranan seorang guru, seseorang dapat membedakan baik dan buruk karena ilmu. Islam meletakkan ilmu di atas yang lainnya, dan Islam juga meninggikan derajat orang yang berilmu dibanding yang lain.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya “Umamah Al-Bahili berkata bahwasannya Rasulullah saw. bersabda : “Kelebihan orang alim (ulama) atas ahli ibadah seperti kelebihanku atas orang yang paling rendah di antara kamu. Kemudian Baginda besabda lagi : Sesungguhnya para malaikat dan penduduk langit dan bumi hingga semut dalam lubangnya serta ikan bersalawat (berdoa) untuk orang-orang yang mengejar kebaikan kepada manusia” (HR. Imam Tirmidzi).
Selain itu biasanya Orang tidak memiliki banyak waktu untuk mengajarkan berbagai macam ilmu kepada anaknya, maka dari itu peran guru adalah mengajarkan berbagai macam ilmu. Setelah hormat dan ta’at kepada orang tua, setiap muslim wajib hormat dan menghargai gurunya, karena gurunya merupakan orang yang perannya sangat penting dalam mendidik kita. Oleh karena itu, sudah seharusnya seorang siswa menghargai dan menghormati gurunya Sebagaimana diperintahkan dalam sabda Nabi Muhammad saw. berikut.
Muliakanlah orang-orang
Artinya : muliakanlah orang-orang yang telah memberikan pelajaran kepadamu. (HR. Abu Hasan).
Orang yang berilmu tidaklah pandai begitu saja tanpa proses belajar. Proses belajar bisa dilakukan secara formal maupun non-formal. Proses belajar biasanya membutuhkan pembina yang biasa disebut guru, yang mempunyai andil besar dalam proses belajar. Guru akan membukakkan pintu-pintu ilmu lain baginya, yang menunjukkan bila kita salah, agar tidak tergelincir pada kekeliruan. Hendaknya orang yang sedang belajar dan berilmu itu bersikap baik terhadap guru.
Berikut adalah beberapa adab murid kepada guru.
1. MULIAKAN DAN MENGHORMATI GURU
Memuliakan orang yang berilmu/guru termasuk perkara yang dianjurkan, sebagaimana Rasulullah saw. berikut.
Ibnu Abbas r.a berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Bukan termasuk golongan umatku orang yang tidak menyayangi yang muda, tidak menghormati yang tua, tidak memerintahkan kebajikan dan tidak melarang kemungkaran” (HR. Tirmidzi).
Agar mendapat ilmu dan taufik, seorang murid hendaknya memuliakan dan menghargai guru, serta berlaku lemah lembut dan sopan santun, jangan memotong pembicaraannya, dan memperhatikan dengan baik. Agar kita mendapat ilmu yang bermanfaat, aamiin

2. MENDOAKAN UNTUK KEBAIKAN BAGI GURU
Rasulullah saw. bersabda :
Ibnu Umar r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda : “Jika ada orang yang memberimu, maka balaslah pemberian itu, jika tidak bisa membalasnya, maka doakanlah ia, sehingga kamu memandang telah cukup membalas kebaikan tersebut”.
Ibnu Jama’ah ra. berkata : “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunyqa sepanjang masa, memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya, dan menunaikan haknya apabila telah wafat”. “Dan karena ilmu yang telah diberikannya juga, hendaknya seorang murid mendoakan gurunya, semoga ia diberikan pahala atas ilmu yang telah diberikan kepada muridnya”.
3. REDAH HATI KEPADA GURU
Sama halnya dengan adab kepada orang tua, kita juga harus merendahkan hati kepada guru, walaupun sang murid lebih pintar, hendaknya menghidari perdebatan dengan guru, dalam hal ini seorang murid hendaklah bersikap rendah hati kepada gurunya, karena sesungguhnya rendah hatinya seorang murid kepada gurunya adalah kemuliaan dan tunduknya adalah kebangaan, sebagaimana Ibnu Jama’ah pernah mengatakan demikian.
Nabi Muhammad saw. bersabda, yang artinya : “Abu Hurairah ra. berkata : bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :”Pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu ketenangan dan kesopanan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang kamu ambil ilmunya” (HR. Tabrani). Ibnu Abbas juga peenah menyampaikan :”Aku merendahkan diri tatkala aku menuntut ilmu, maka aku dimuliakan tatkala aku menjadi guru”.

4. MENCONTOH AKHLAKNYA
Guru adalah teladan bagi muridnya, oleh karenanya, hendaklah seorang murid mencontoh akhlak dan kepribadian gurunya yang baik. Seperti mencontoh kebiasaan dan ibadahnya. Seorang guru pasti membrikan hal-hal yang baik secara lisan atau perbuatan terhadap murid-muridnya.
5. MENENANGKAN HATI GURU
Seorang murid hendaknya tidak membuat gusar gurunya. Imam Syafi’i dalam pertemuannya dengan gurunya, Imam Malik, pada tahun 170 H, hampir tidak pernah meninggalkan gurunya sampai gurunya wafat pada tahun 179 H. Imam Syafi’i tidak pernah meninggalkannya, kecuali ketika ia pergi ke Mekah untuk menjenguk ibunya ataupun pergi ke pusat ilmu atau faqoh. Itupun setelah diperoleh izin dan restu daru gurunya.
Ada sebuah cerita tentang Imam Syafi’i, ketika beliau berziarah ke makam Abu Hanifah, ia datang bersama dengan salah satu murid seniornya Abu Hanifah, bernama Hasan Asy-Syaibani. Setelah tiba di makam, Hasan Asy-Syaibani mempersilahkan Imam Syafi’i untuk menjadi imam shalat subuh.
Pada rakaat kedua Imam Syafi’i tidak membaca qunut; padahal dalam mahzabImam Syafi’i sendiri membaca qunut asalah sunat ab’ad, tetapi beliau meninggalkan membaca qunut.
Setelah selesai shalat, Hasan Syaibani bertanya, “Mengapa Anda tidak membaca qunut wahai Syafi’i? Bukankah engkau berpendapat bahwa qunut subuh sebuah amalan sunat yang perlu dibaca?” Aku malu dengan pemilik kuburan ini” Sahut Imam Asy-Syafi’i.
 
 
Sumber : (https://muridguru.com/adab-kepada-orang-tua-dan-guru/)
 

Kamis, 15 Desember 2016

ANAK BUKAN MINIATUR ORANG DEWASA

Mendidik anak, memang susah-susah gampang. Susahnya disaat kemauan nya sangat keras, apapun yang ada disekitarnya dibanting, bahkan tidak jarang tangannya mencakar-cakar orangtua nya yang sedang mengarahkan sesuatu. Ini lah tantangan yang harus dihadapi setiap orangtua. Hanya saja, kebanyakan orangtua tidak memahami keinginan anak, akhirnya dalam mendidik tidak sabaran.
Misalnya ketika orangtua menginginkan anak nya ikut shalat ke masjid, orangtua yang paham tidak akan menggunakan cara kekerasan, karena anak akan melakukan perlawanan, dan ketika anak melawan seandainya dia ikut shalat pun, anak pasti masih memendam kemarahan. Cara seperti itu akan menimbulkan pemahaman pada anak, bahwa shalat itu capek, dan membuat lutut sakit.
Jika kita melihat satu konsep pendidikan, misalnya menurut Muhammad Iqbal (Afghanistan) mengatakan bahwa mendidik anak itu harus dengan kebebasan. Misalnya ketika anak ingin shalat nya setelah acara TV kesayangan nya iklan, baru lah shalat, ya tidak apa-apa namanya juga anak-anak. Kemudian jika anak tidak mau memakai celana panjang ketika shalat, juga biarkan saja, toh dia masih anak-anak. Lalu ketika abak tidak mau berwudhu, karena khawatir baju kesayangan nya basah, juga dipersilahkan saja. Yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkan kesenangan dalam mendidik, karena dunia anak-anak memang begitu. Jadi jangan samakan dunia anak dengan orang dewasa. Cara mendidik yang salah, itu akan menyebabkan anak stress, bahkan anak akan merasa bosan. Pada esensi nya, mendidik itu harus memanusiakan manusia. Maka kalau ada orangtua yang mendidik anak nya dengan kekerasan, pada dasarnya orangtua seperti itu adalah sedang mengajari orang dewasa, ya tidak akan masuk. Maka kunci nya adalah sabar, dan sabar dalam mendidik anak. Jangan lupa berdo'a agar Allah melunakkan hati nya. Robbi habli minasshaalihiin ...

Kamis, 03 November 2016

PESAN-KU UNTUK-MU YANG ESOK DEMO

PESANKU UNTUKMU, SAUDARA MUSLIM-KU YANG DEMO

Besok, 04 November 2016 akan berlangsung demo besar-besaran terkait penistaan Al-Qur’an (red-agama) oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Demo tersebut diikuti dari berbagai kalangan, dari ulama, pejabat, hingga masyarakat biasa, yang tergabung dalam organisasi masyarakat Islam seperti FPI, FUI, Fahmi Tamami, dan ormas lainnya. Semua ormas tersebut, besok akan memadati Jakarta, dimulai dari shalat Jum’at berjamaah di Istiqlal, hingga longmarch ke Istana Negara menuntut Presiden RI untuk segera menekan Polri memutuskan perkara Ahok.
PBNU sebagai organisasi islam terbesar di Indonesia memilih netral, dalam arti tidak larut dalam acara demo esok. Sikap tawazun (moderat) NU ini di titik beratkan untuk persatuan Indonesia. NU khawatir jika demo besar-besaran dilakukan maka akan terjadi kerusuhan dan membahayakan keutuhan NKRI.
Penulis memberikan analisis sendiri tentang masalah ini, ada beberapa poin yang penulis akan sampaikan.
Pertama, demo merupakan hak konstitusional warga negara. Setiap warga negara di berikan hak untuk menyampaikan aspirasi, mengkritik, bahkan memberikan masukan kepada pemerintah sesuai cita-cita reformasi yang transparan dan demokratis. Termasuk hak berkumpul, berorganisasi, berserikat itu merupakan hak bagi setiap warga negara. Berarti jika pemerintah melarang demo, reformasi kita cacat. Artinya dalam hal ini, mereka yang demo ke jalan esok, tidak melanggar konstitusi asalkan tidak radikal dan jauh dari premanisme.
Kedua, demo tidak akan efektif dan efisien jika tidak dibuatkan strategi yang baik. Demo ini harus tepat sasaran. Misalnya jika yang dipermasalahkan adalah penistaan agama, maka hal-hal yang tidak terkait haram disampaikan. Tuntut saja perkara Ahok itu menistakan agama, jangan bicara agama si Ahok nya, karena masalah agama ini rawan sekali perpecahan.
Ketiga, demo tidak perlu melibatkan para pelajar, mahasiswa, atau para pencari ilmu. Mengapa ? mereka sejatinya juga sedang berjuang menuntut ilmu Allah, harusnya difasilitasi dan diberikan pengertian saja tentang perkara Ahok dan tidak perlu dilibatkan. Karena di dalam Al-Qur’an Allah yang berfirman, yang artinya “ Dan ada diantara kalian yang tafaqquh fiddin (belajar agama)”. Ayat tadi berkaitan dengan sikap kaum muslimin yang saat itu ingin berangkat ke medan perang, tetapi saat itu juga Allah tegur agar jangan semua ikut berperang tetapi ada yang belajar. Jika diilustrasikan, kalau semua orang maju ke garis depan, maka akan lemah di garis belakang.
Keempat, demo dilakukan dengan santun. Ini yang terpenting. Demo tidak boleh anarkis, dan radikal. Harus disesuaikan dengan nilai-nilai islam yang santun dan damai. Bukan berarti tidak boleh untuk tegas, tetapi pandailah bersikap, ada kalanya kita harus tegas dan ada kalanya kita harus mengalahkan ego kita sendiri. QS. An-nahl : 125 berbiacara tentang metodologi dakwah yang baik, yaitu wa jaadil hum billati hiya ahsan (maka berdebatlah (berbiacara, demo) kepada mereka dengan cara yang paling baik (strategi dakwah yang terbaik).
Kelima, hati-hati provokator. Mereka bukan membela umat islam, bukan juga membela Ahok, mereka sebetulnya ingin menghancurkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Siapa dia ? Dia adalah yang rindu peperangan, yang ditunggangi Amerika. Mereka juga adalah yang sering teriak-teriak di jalan sambil bilang “Tegakkan Khilafah”. Kita harus mewaspadai dari mereka yang ingin menceraikan persatuan kita.
Akhirnya, semoga demo hari esok berjalan kondusif, tidak ada chaos, tidak ada baku hantam, berjalan sesuai keinginan kita bersama yaitu demo yang damai dan aman. Semoga Allah merahmati kalian, penulis hanya bisa berdo’a agar kalian bisa segara kembali ke rumah, karena ada kewajiban yang harus kalian kerjakan juga besok.

Selasa, 02 Agustus 2016

MUSIK DALAM ISLAM, SEBUAH PARADIGMA BARU By. Khairul Umam



MUSIK DALAM ISLAM, SEBUAH PARADIGMA BARU
Khairul Umam

Musik adalah bunyi-bunyian yang terdengar oleh indra pendengaran manusia, yang berasal dari gesekan, tiupan, atau semisalnya hingga terdengarlah suara. Musik adalah bahasa jiwa manusia, dengan musik manusia bisa mengekspresikan dirinya. Sedang sedih, manusia biasanya memutar musik yang berirama sendu dan mendayu, sebaliknya, ketika manusia sedang semangat, diputarlah musik yang dapat menambah semangatnya. Begitu hebatnya musik, hingga mind set manusia dapat berubah karenanya. Musisi dangdut Rhoma Irama, mengatakan dalam lagunya “Memang dengan adanya musik, dunia ramai jadi berisik. Tapi kalau tak ada musik dunia sepi kurang asyik”(Rhoma Irama-Musik)

Kemudian yang masih menjadi perdebatan sengit diantara ulama adalah tentang kehalalan musik, atau kebolehan mendengarkan atau memainkan musik. Sampai saat ini belum clear, haram atau halalnya artinya ulama belum sepakat tentang hukumnya. Hadits-hadits tentang haramnya musik, didasari pada hadits yang berbunyi “Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat musik” (HR. Bukhari no. 5590) 

Hadits diatas, masih sangat tekstual. Sedangkan makna tersiratnya masih bisa ditafsiri lagi. Mengapa kemudian yang diharamkan adalah alat-alat musik ? bukan musik saja ? Tentunya ini isyarat. Allah memberikan manusia akal, untuk kemudian meng-eksplorasikan akal yang telah diberikan Allah. Alat musik adalah buatan manusia, lantas berarti Allah mengekang kembali kebebasan berpikir manusia untuk menciptakan sesuatu. Makna alat juga sangat luas sekali. Misalnya, ketika anak-anak SD memukulkan tangan nya ke meja, kemudian menghasilkan suara, apakah kemudian meja itu haram karena menjadi alat musik ? ini yang harus dikaji tentang konteks hadits tersebut secara lengkap menjadi satu redaksi.

Merefleksikan musik dalan kehidupan sehari-hari adalah bagian dari aktifitas manusia, penulis merasa tak bisa seoraang manusia pun menghindari musik. Hampir setiap saat, setiap tempat pastilah ada suara musik. Jika musik haram, maka manusia tidak boleh mendengarkannya, haram lidzaatihi. Ke pasar, ada musik, di radio dan televisi setiap menit ada saja suara musik. Berlebihan sekali jika kita masih terbelenggu kepada pemikiran yang kaku tentang musik.

Menurut Ali Audah, tidak bisa kita melihat seni hanya dengan akal saja, tetapi harus juga dengan hati nurani. Hati nurani inilah akhlak agama yang tak akan dapat dibohongi

Musik adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia. Manusia dapat mengenal notasi, bahkan sense of music itu berada pada nurani manusia yang mencintai musik. Musik itu fitrah manusia, selama manusia dapat mempertanggung jawabkannya maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Terakhir, mari kita simak pernyataan Rhoma Irama ini sebagai penutup yang menyimpulkan tulisan singkat ini.
“Musik bukan untuk senang-senang belaka, tapi musik adalah suatu pertanggung jawaban dihadapan Tuhan dan Manusia”

Wallahul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriiq

Kamis, 30 Juni 2016

BUKA BERSAMA KAMU BISA HARAM, JIKA .....

Buka bersama adalah kegiatan yang sudah tidak asing lagi di lakukan oleh Muslim di Indonesia. Buka bersama, atau disingkat bukber ditujukan untuk buka puasa secara bersama-sama. Biasanya dilakukan antar teman kerja, teman lama, atau keluarga besar di suatu tempat seperti Rumah Makan, Mall, atau tidak jarang yang buka bersama di rumah rekannya. Sepertinya bukber ini sudah mendarah daging di kalangan kita, teman-teman lama SD, SMP, SMA, semua antre membuat jadwal bukber. Artinya, bukber di mata orang Indonesia sangat di nantikan dan di persiapkan dengan baik. Penulis sendiri, harus mempersiapkan 5 (lima) agenda bukber, terasa melelahkan tetapi harus menghormati undangan.

Dalam Islam, buka bersama memang salah satu kegiatan yang disunnahkan. Masuknya ke dalam fadhillah makan bersama, bukan buka bersama tetapi ada kesamaan makna yaitu “Makan Bersama”. Ada keberkahan yang terkandung didalamnya. Dari Jabir bin Abdillah beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah saw. Bersabda “Makan satu orang itu cukup untuk dua orang. Makanan dua orang itu cukup untuk empat orang. Makanan empat orang itu cukup untuk delapan orang “ (HR Muslim no 2059)

Hadits diatas bermakna, bahwa makan yang dilakukan secara bersama-sama dengan rekan kita adalah perbuatan yang mulia, ada keberkahan yang Allah berikan bagi mereka yang berjamaah. Betapa tidak, makanan yang tadi nya kita makan sendiri, kemudian karena bersama-sama kita bagikan dengan teman sebelah kita, disitulah ada nilai kebersamaan nya. Kemudian, melihat kondisi buka bersama yang diartikan seperti “kongkow” biasa, relevan-kah hadits diatas ? Kemudian apa saja dampak negatif buka bersama ?

Bukber yang dilakukan oleh orang Indonesia sekarang itu jauh dari nilai berkah. Karena tidak ada maksud untuk “saling berbagi”, tetapi sendiri-sendiri saja. Ketika satu teman makan ayam di satu piring, teman yang lain makan ikan lele, yang lain lagi makan ikan gurame. Disitu kita berpikir, apa beda nya buka bersama dengan buka sendiri ? Toh yang dimakan menu nya berbeda, rasa kebersamaan nya tidak ada, keberkahan-pun tidak menyertai. Karena berkah akan menyertai jika kegiatan makan bersama itu dilaksanakan dengan sikap memberi dan menerima. Misalnya, di hidangkannya piring besar yang kemudian sekelompok orang makan di piring yang besar itu, sambil sesekali bertukar ayam, memberi sambal, itulah berkah nya makan bersama.

Kemudian, dalam bukber banyak walaupun tidak semua, mereka lalai melaksanakan shalat maghrib. Ini yang luput dari pandangan pecinta bukber. Kadang setelah makan, mereka lebih asyik selfi bersama rekannya, merokok sambil ngobrol yang tidak ada ujungnya, tertawa bersama, inikah buka bersama ? Seyogyanya setelah buka bersama, sebagai muslim yang baik dan mengerti hakikat puasa, kita dahulukan shalat maghrib nya, setelah shalat bisa dilanjutkan untuk sebentar ngobrol. Kenapa harus sebentar ? Karena ibadah kita masih ada lagi, yaitu shalat Isya’ dan tarawih.

Bisa saja kita shalat Isya’ pukul 20.00, tetapi itu kan termasuk menunda waktu shalat, bahkan masuk kategori melalaikan. Kita kan ingin ramadhan yang berkualitas, maka prosesi buka bersama, janganlah membuat Allah marah lagi dengan kita. Puasa untuk Allah, maka jangan sampai Allah tidak ridho hanya karena bukber yang konyol itu. Bukber boleh saja, asalkan kita pandai memahami dan mengikuti rambu-rambu yang ditetapkan Allah.

Semoga, puasa kita diterima Allah SWT. sehingga tercapailah cita-cita Muttaqin. Yang lalu, mungkin kita mudah menunda shalat Isya’ karena tidak tahu karena lebih asyik ngobrol selepas bukber, dan semoga khilaf kita di ampuni oleh Allah SWT.  
Wallahul muwaafiq ilaa aqwamith thoriiq

Sabtu, 25 Juni 2016

GURU ADALAH MODEL BAGI SISWA

Judul itulah yang menjadi alasan saya mengapa tanggung jawab menjadi guru ini sangat berat sekali, karena memang tidak mudah menjadi guru. Tidak semudah itu, kalau pemikiran kita masih saja begitu, guru tidak akan berharga dan dihargai lagi.Paradigma lama tentang guru asal, asal hadir, asal di kelas, asal ceramah, patut di ubah.

Guru, mau tidak mau disebut profesi. Karena guru dituntut memiliki keterampilan (skill) dalam mengajar, menyusun administrasi, mengelola kelas, dan lain sebagainya. Maka disebutlah guru sebagai pekerja. Memang jika dilihat, guru itu bukan sekedar pekerja biasa, ada tantangan dan tanggung jawab moral yang dipikul oleh seorang guru.

Guru adalah seorang model. Betul juga jika pepatah berbunyi “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Inilah tantangannya seorang guru. Bagaimana guru itu menjadi uswatun hasanah. Memang di dalam Qur’an disebutkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 “Sungguh ada pada diri Rasulullah saw. itu suri teladan yang baik” adalah ditujukan untuk memuji Rasulullah. tetapi jika dikaitkan dengan konteks figur, maka betapa pentingnya sosok atau tokoh yang di teladani nya. Orang islam, otomatis mengidolakan sosok Rasulullah karena dibuktikan dengan perilaku beliau yang luhur. Begitupun siswa, akan mengidolakan atau mematuhi guru, jika memang guru itu pantas dan layak untuk ditiru. Itulah yang dimaksud guru sebagai model.

Yang kemudian terlintas di benak kita sekarang adalah saat ini kebanyakan guru tidak bisa menjadi model. Kita tidak bisa menafikan, bahwa guru era sekarang sudah kebablasan dalam mendidik. Bukan saja kebablasan dalam sikap, tapi juga kebablasan dalam berbicara. Kita bisa lihat sekarang, banyak guru bergaya orang kaya, padahal kekayaan tidak boleh ditampakan pada murid, kenapa ? karena akan membiasakan pada mind set murid nya bahwa mereka harus menjadi kaya seperti guru nya, akhirnya memiliki sifat materialistis. Belum lagi dalam bertutur kata, antar guru sudah tidak lagi ada rasa menghormati dalam berbicara. Seorang guru memanggil rekannya dengan sebutan “loe-gue”, itu sah saja, tetapi jika disampaikan di sekolah ini menjadi sangat tidak sopan. Mengapa ? karena sekolah adalah tempat ilmu, dan guru adalah penyampai nya, apalagi jika didengar oleh siswa dan orangtua murid, ini yang kemudian akan membuat siswa berkata “Oh, guru gue ternyata begitu. Di kelas gue ngomong begitu diomelin, ah munafik”. Begitu mungkin yang akan terlintas di benak mereka ketika mendengar guru nya berkata kasar (red-tidak sopan)

Guru memang bukan juga malaikat yang tidak pernah berbuat salah dan khilaf. Karena sudah menjadi sifat dan qodrat manusia. Tidak dinamakan manusia, jika tidak pernah berbuat salah, kecuali Rasulullah saw. yang telah di maksum oleh Allah. Dalam hadits, “Manusia itu tidak lepas dari salah dan lupa”. Dalam memaknai hadits ini pula jangan untuk membela diri, ketika seorang guru di nasehati oleh orang lain karena sikapnya, guru yang picik menggunakan hadits ini untuk membela diri. Guru memang tidak mungkin tidak pernah salah, tetapi kalau sudah di kritik masih saja salah dengan dalih “sifat manusia”, maka menurut saya dia telah mati rasa. Karena kritik bagi seorang guru sangat penting sekali, jika guru tidak diberikan kritik secara berkala, maka ketika guru itu telah memuncak kesalahannya tidak berlaku lagi sebuah teguran. Jika guru sering di tegur, maka akan terbiasa untuk jalan pada tempatnya. Siapa yang menegur ? semua nya boleh. Kepala Sekolah, Wali Murid, bahkan ketika siswa meng-kritik maka wajib bagi guru untuk menerima kritikan itu, karena merekalah yang mengamati kita sebagai guru.

Guru adalah pemimpin, pemimpin bagi siswa-siswanya, bagaimana tanggung jawab seorang guru dalam menghantarkan siswanya pada jalan Allah. Semuanya akan dimintakan pertanggung jawaban oleh Allah swt. “Setiap Kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintakan pertanggung jawabannya oleh Allah swt” (Hadits)

Jadi, guru itu bukan saja orang yang pandai mengelola kelas, mentransfer ilmu. Kalau tugas guru begitu saja, mungkin nanti akan diciptakan guru robot, hingga moral peserta didiknya tidak diperhatikan. Akhirnya, semoga para guru di Republik ini pandai menjadi model untuk siswa nya. Guru apapun kita, mengajarkan moral adalah tanggung jawab kita bersama. Satu, dua orang meninggal karena dokter melakukan mal praktik, tetapi jika seorang guru salah dalam menyampaikan norma dan moral maka satu generasi akan rusak.
Wallahul muwaafiq ilaa aqwamith thoriiq

Minggu, 19 Juni 2016

DALIH TOLERANSI, MERENGGANGKAN-KU

Baru-baru ini, tepatnya pada minggu lalu. Publik dikejutkan oleh berbagai isu ramadhan yang berisi konten berkedok toleransi. Dimulai dari pernyataan khusus Menteri Agama Lukman Hakim tentang harus menghormati yang tidak berpuasa, yang disusul dengan kejadian dihancurkannya warteg di Serang yang buka pada siang hari oleh Satpol PP. Tentunya ini yang kemudian mengundang polemik dikalangan umat Islam. Seakan-akan ramadhan kali ini, benar-benar umat Islam di uji kesabarannya oleh Allah. Kenapa begitu, mari kita analisis satu demi satu.

Pertama, tentang ucapan Menteri Agama untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Sepintas memang tidak ada yang salah dengan ucapan tersebut, tetapi jika kita perhatikan maknanya ini ada masalah.
Toleransi dalam islam (tasammuh) memang dianjurkan bahkan diperintahkan oleh syari’at. Tetapi konteks nya haruslah disesuaikan. Karena memang perintah Nabi saw., “Agama yang paling dicintai Allah, adalah yang lurus dan toleran”. Bukan berarti semua kasus kita sama-ratakan. Misalnya kasus ini, tidak benar jika kita harus menghormati orang yang tidak berpuasa. Itu sama saja dengan kita menyuruh atau membuka wadah bagi saudara kita yang enggan berpuasa. Karena makna orang yang tidak berpuasa, itu luas sekali. Bukan cuma non-muslim, atau orang yang tidak dikenakan wajib puasa (misalnya anak kecil, sakit, haid, atau musafir), tetapi semuanya yang malas berpuasaa juga akan mendapatkan ruang toleransi itu. Seharusnya, bijaklah dalam memberikan pernyataan yang dijadikan hujjah oleh masyarakat. Tanpa di beri tahu-pun, kita akan tahu bagaimana menghormati yang tidak berpuasa, dari dulu tidak pernah terdengar tindakan perang karena masalah ini kan ?

Kedua, kasus Ibu di Serang Banten yang berjualan di Siang hari ramadhan yang kemudian di razia oleh Satpol PP. Banyak kalangan yang ber-empati kepada Ibu itu. Kasihan memang harus ada, tetapi jika Ibu yang kita kasihani ini melanggar Perda tentang larangan berjualan di siang hari selama bulan ramadhan, untuk apa dikasihani ?

Bahkan menurut berbagai sumber, sumbangan yang diberikan untuk Ibu Saeni (Penjual) sudah menembus angka ratusan juta. Hingga sampainya berita bahwa, Ibu Saeni diberi bantuan uang oleh Presiden RI. Astaghfirullah, lagi-lagi umat islam harus mengusap dada sambil tarik nafas, seraya berkata “Inikah tanda akhir zaman ?”. Padahal masih banyak orang miskin yang kelaparan, kedinginan karena tak ada tempat tinggal, harus luput dari pandangan para hartawan dan pemerintah. Mengapa kasus seperti ini baru membuka mata mereka, bukankah praktik razia oleh Satpol PP sudah lama mengapa baru ini yang Kau bantu ?

Warung yang buka pada siang hari, menurut saya, pemilik warung itu tidak mau disayang Tuhan. Karena tidak mau menyayangi saudaranya yang sedang berpuasa. Saya yakin, puasa orang Indonesia itu tidak semua sama tingkatannya. Ada yang tahan sekali berpuasa, sampai lupa rasa lapar, tetapi ada saja orang yang berpuasa langsung saja berbuka ketika lapar, karena melihat warung berada di depan mata. Dahulu, orang yang tidak berpuasa saja harus makan sambil nyumpet karena khawatir mengganggu orang yang berpuasa. Tetapi kini berbeda, kita lah yang harus menonton mereka makan di depan kita, lagi-lagi dalih toleransi.

Semoga Allah swt., menyertakan taufiq dan hidayahnya kepada kita semua agar para pemimpin kita mampu menyatukan kita, bukan malah merenggangkan kita. Terakhir, semoga dengan banyaknyaa tantangan di bulan Ramadhan ini, Allah beri pahala kita yang lebih. Aamiin. Wallahul Muwaafiq ilaa aqwaami thariiq